Selasa, 25 November 2008

Obama harapan..atau ancaman..?


Mata seluruh dunia tertuju pada saat pemilihan presiden AS berlangsung pada beberapa waktu lalu. Dan pada pemilihan kali ini mencatat sebuah sejarah baru, Barrack Hussein Obama resmi menjadi presiden AS pertama dari kelompok kulit berwarna.

Hampir separuh orang lebih di dunia, khususnya semua warga Indonesia ini menaruh harapan yang besar pada sosok Obama. Seorang yang prural dari faktor keturunan, pengalaman hidup di Indonesia, dan hubungan darah dengan kerabat Muslim Nigeria (salah satu isu yang dimunculkan dari kubu Hillary clinton saat persaingan mereka maju sebagai Capres dari partai Demokrat) mereka yakin Obama mampu mengubah Amerika menjadi negara yang lebih demokratis, tidak arogan, tidak destruktif, semena-mena dengan negara berkembang, dan lebih peduli terhadap bangsa-bangsa lain.

Tapi, banyak juga kalangan-kalangan yang pesimis dengan Obama mampu membuat banyak perubahan (yang sering dia katakan seperti saat kampanyenya). Latar belakangnya itu dinilai malah akan membuatnya gampang digoyahkan. Untuk meraih simpati saja, Obama banyak membuat langkah2 kontroversial yang membuat cemas dan pesimis negara2 timur tengah dan dunia Islam. harapan akan terbentuknya tata dunia barupun dipertanyakan.

Isu yang pernah dilontarkan oleh Hillary saat kampanyenya dari Demokrat adalah posisi Barrack Obama terhadap Yahudi dan Israel. Maklum saja latar belakang keluarganya yang sangat dekat dengan Islam (ayah kandungnya, Barack Obama Sr. Dan ayah tirinya Lolo Soetoro adalah muslim) banyak membuat kalangan bahwa obama membuat jarak dengan kaum Yahudi. Tapi pandangan Obama dan posisinya terhadap Yahudi dan tentunya Israel semakin jelas. Dalam pidatonya pada konferensi tahunan kelompok lobi AS-ISRAEL, American Israel Public Affairs Commitee (AIPAC) di washington, Obama mendapat sambutan hangat dari para figur israel yang mendengar pidatonya. Obama menegaskan bahwa ikatan AS dan Israel ” tak bisa putus sekarang, tak bisa putus besok, dan tak bisa putus selamanya..!!”. Mendengar kata-kata Obama itu, hadirin bangkit dari tempat duduk dan memberikan standing applaus..

Tapi sejujurnya saya sebagai warga Indonesia, ikut bangga dengan terpilihnya Obama sebagai presiden AS. Walaupun kita sebagai warga Indonesia terkesan cari muka di hadapan publik hanya gara2 Obama pernah tinggal di Indonesia selama 4 tahun dan ayah tirinya adalah orang Indonesia. Menurut saya, itu sah-sah saja. Kita masih harus selalu punya harapan. Tidak dipungkiri, bahwa Indonesia walau miskin2 gini juga punya ikatan historical yang nyata untuk Obama sendiri. Dan harapan dan dukungan Indonesia tidak berlebihan, setidaknya dengan dia menjadi presiden nantinya kebijakan2 yang dia buat tidak selalu AROGAN, SEMENA-MENA, SOK PALING BERKUASA, DESTRUKTIF, HOBI PERANG, DAN KEKEJAMAN YANG LAINNYA yang seperti selama ini terjadi dibawah kepemimpinan ”orang2 Republik” .Paling tidak kebijakkannya tidak menindas negara2 lain, khususnya negara2 berkembang.

Hal ini dihubungkan dengan keamanan dunia sekarang, sampai sekarangpun perang antara IRAK-ISRAEL pun belum usai.. yahh saya berharap akan ada suatu PERUBAHAN yang dijanjikan Obama. Mungkin dengan latar belakang dia yang prural, dia lebih tau Islam itu bagaimana sebenarnya, tidak yang selama ini di klaim negara2 barat, Amerika khususnya ISLAM IS NOT TERORISM. Dia bisa mengadakan negosiasi ulang yang bisa menghasilkan kesepakatan yang benar2 bisa kita rasakan PERUBAHANnya. Saya yakin Obama mampu memandang permasalahan ini dari sudut pandang yang lain. Tidak hanya 1 sudut pandang..

Untuk kedepannya kita belum bisa tau, track recordnya bagaimana sebagai orang nomor 1 di AS ini, karena masih tahun depan dia bisa menjalankan tugasnya. Kata akhir dari saya adalah KITA MASIH PUNYA HARAPAN, bagi rakyat AS bahkan Indonessia dan dunia yang menginginkan perubahan. Harapan selalu bergerak positif menuju sesuatu yang lebih baik. Didalamnya ada optimisme dan keyakinan.

Harapan adalah jawaban terbaik di saat gagal

Harapan adalah sekelumit hasrat surga

Dengan harapan kita merasa kehidupan ini masih berarti .

Obama ”hanyalah” seorang lelaki tinggi, kurus, memiliki ayah kulit hitam dan ibu kulit putih, tapi orang2 menempatkannya sebagai kulit hitam, dengan latar belakang masa kecilnya yang konon dekat dengan islam, yang membuatnya menghadapi gempuran dari berbagai sudut mulai isu dari rasisme hingga agama.

Dengan semboyan ”harapan menuju perubahan” Obama berhasil menyisihkan Hillary Clinton, tokoh yangjauh lebih berpengalaman dan nominasi dari parta Demokrat, dan akhirnyapun dia mengalah pesaingnya dari partai Rebuplik John Mccain.

Tentu saja Obama bukannlah manusia super yang bisa menjawab permasalahan dan konflik di seluruh dunia. Namun ketika dunia selama ini kian lama kian mengerikan justru karena arogansi yang terus-menerus mencekram kepala para pemimpin adidaya, kesederhanaan Obama, secara apa adanya, membuat kita membuka mata : sesungguhnya dunia masih lebih baik. Ya, itulah harapan. Sebab, ” What’s hard, what risky, what’s truly audacious, is to hope,” kata Obama.

1 komentar:

Muhammad Yusuf Ansori mengatakan...

DUNIA HANYA BERHARAP PADA KHILAFAH, BUKAN OBAMA



Dunia baru saja menyaksikan, Barack Obama akhirnya terpilih menjadi prisiden Amerika Serikat yang ke-44. Banyak kalangan di seluruh dunia, termasuk Dunia Islam, menyambut gembira kemenangan Barack Hussein Obama sebagai presiden Amerika Serikat. Banyak kalangan berharap, Obama akan menyelamatkan Amerika Serikat dan membawa perubahan yang besar terhadap dunia. Harapan yang sama juga muncul dari sebagian umat Islam. Di dalam negeri, misalnya, Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid berharap, Barack Obama mampu menghadirkan tata dunia baru yang tidak lagi berbasis pada hegemoni arogan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dijalankan oleh pemerintahan Presiden George W Bush. “Saya berharap Obama juga melahirkan tata dunia baru yang lebih berkeadilan, termasuk dalam konteks Timur Tengah,” tegasnya. (Hnw.or.id, 7/11/2008).

Obama dan Perubahan?

Banyak kalangan menilai, kemenangan Obama adalah kemenangan ”perubahan”. ”Perubahan” bahkan menjadi tema utama yang berkali-kali disuarakan Obama di hadapan publik AS. Namun, dalam konteks politik luar negeri AS, khususnya terhadap Dunia Islam, harapan atas ”perubahan” kebijakan AS terhadap Dunia Islam tampaknya tidak bakalan terwujud. Ini bisa dilihat dari janji-janji ”perubahan” Obama saat kampanye, utamanya di bidang pertahanan dan luar negeri. Di antara janji ”perubahan” itu adalah: mengirim pasukan lebih banyak ke Afganistan, melawan terorisme global, menyusun kekuatan internasional untuk menekan Iran dan mencegah Iran mengembangkan nuklir (Republika, 6/11/2008).

Sepintas, memang ada beberapa janji perubahan ke arah positif yang dikatakan Obama seperti: menarik pasukan dari Irak, beralih dari unitelarisme ke politik multilateralisme, mengedepankan kerjasama dan diplomasi dan mempercepat perdamaian Timur Tengah. Namun, tentu saja itu hanya dalam tataran strategi politik, sama sekali tidak menyentuh paradigma politik AS yang imperialistik (bersifat menjajah). Pasalnya, AS tetaplah negara utama pengemban ideologi Kapitalisme, dan penjajahan/imperialisme adalah metode baku politik luar negerinya.

Karena itu, AS di bawah Obama sekalipun, tetap akan mendukung penjajahan Israel atas Palestina, misalnya. Dalam kampanyenya sebelum menjadi presiden, Obama bahkan berkali-kali menegaskan dukungannya atas Israel, “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu,” demikian salah satu kutipan pidato Obama.

Pernyataan ini diperkuat oleh Juru Bicara Obama, “Obama akan menghormati kesepakatan-kesepakatan yang sudah dilakukan terkait dengan bantuan dana bagi Israel dan akan mengusahakan agar bantuan itu ditingkatkan sampai 30 miliar dolar AS dalam jangka waktu 10 tahun.” (Suaramedia.com, 6/10/08).


Sebagai Negara Ideologis, AS Tak Akan Berubah

Mengomentari terpilihnya Obama, Taji Mustafa, perwakilan media Hizbut Tahrir Inggris mengatakan, “Amerika bukanlah satu orang…Amerika adalah sebuah negara kapitalis dengan seperangkat kebijakan luar negeri kapitalis, yakni untuk menjajah negara-negara lain. Dengan cara itulah, negara itu senantiasa mencari cara untuk mempertahankan dominasinya di Dunia Islam dan terus melanjutkan agenda eksploitasi kapitalisnya…” (Hizb.org.uk, 5/11/2008)

Karena itulah, siapa saja yang menjadi presiden AS dan partai manapun yang berkuasa (Republik atau Demokrat) di AS, kebijakan AS dalam menghadapi negara-negara Islam akan tetap sama. Bedanya, jika Partai Republik berusaha meraih tujuan secara terang-terangan maka Partai Demokrat menginginkan hal yang sama, tetapi dengan cara yang lebih halus. Misal, dalam kasus Irak, Obama memang berencana akan menarik pasukan AS secara bertahap dari Irak. Namun, hal ini lebih karena Obama sangat memahami bahwa selama ini hegemoni AS terhadap dunia semakin pudar akibat pendudukan AS terhadap Irak yang tidak berdasarkan justifikasi yang kuat, di samping AS juga rugi besar di Irak. Karena itulah, Obama lebih fokus pada Afganistan demi kembali meraup dukungan penuh Eropa dan dunia. Rancangan inilah yang akan dijalankan oleh AS untuk kembali merias wajahnya di hadapan dunia setelah 8 tahun carut-marut akibat ’ulah’ Bush.

Namun demikian, dunia tidak boleh melupakan kejahatan AS di bawah Republik maupun Demokrat dalam hal mengintervensi (baca: menyerang) negara lain. Setelah Perang Dunia II saja AS—baik di bawah Republik maupun Demokrat—telah menyerang lebih dari 20 negara di seluruh dunia seperti Yunani (1947-1949), Italia (1948), Korea (1950-1953), Iran (1953), Guatemala (1954), Kongo (1960), Kuba (1961), Vietnam (1969-1975), termasuk negara-negara lain seperti Granada (1983), Libanon (1983), Libya (1958 dan 1983), Somalia (1991-1992), Afganistan (1998-2004), Sudan (1998), Serbia, dan terakhir Irak. Kebijakan AS yang barbar ini tentu akan terus berlangsung dan kontinu.


Dunia Membutuhkan Khilafah

Dengan sedikit fakta di atas, sesungguhnya tidak layak dunia, apalagi Dunia Islam, berharap pada kepemimpinan AS, meski yang memimpin AS saat ini adalah Barack Obama. Dunia saat ini, tidak hanya Dunia Islam, sesungguhnya membutuhkan Khilafah Islamiyah dan munculnya kembali Imam al-A’zham (Pemimpin Agung), yakni Khalifah.

Umat Islam jelas membutuhkan Khilafah. Sebab, Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia melalui dakwah dan jihad. Dengan Khilafahlah kaum Muslim bisa benar-benar memenuhi secara praktis perintah dan seruan Allah SWT kepada mereka:



]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ[

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya jika dia menyeru kalian pada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian (QS al-Anfal [8]: 24).



Lebih dari itu, sebagaimana pernah disampaikan Syaikh Ismail al-Wahwah, dengan tegaknya Khilafah, secara praktis:

1. Hukum-hukum syariah di tengah-tengah kaum Muslim bakal tegak; hukum-hukum kufur yang diterapkan atas mereka saat ini bakal tersungkur.

2. Islam akan cepat tersebar ke seluruh dunia melalui dakwah dan jihad.

3. Negeri-negeri kaum Muslim bakal dipersatukan di bawah kepemimpinan seorang khalifah. Tegaknya Khilafah akan menandakan berakhirnya keterceraiberaian kaum Muslim di lebih dari 50 negara negara-negara kecil tak berdaya.

4. Ikatan ukhuwah islamiyah yang sejati bakal terwujud menggantikan ikatan patriotisme, nasionalisme, kesukuan dan yang lainnya, yang telah memecah-belah kaum Muslim saat ini.

5. Umat mendapatkan kekuasaannya kembali yang telah dirampas kaum kafir penjajah. Ini berarti pembebasan dari penghambaan dan sikap membebek pada Barat kapitalis penjajah di seluruh aspek, politik, budaya, pemikiran, ekonomi, pers media massa dan militer.

6. Negeri-negeri kaum Muslim yang dicaplok seperti Irak, Afganistan, Kashmir, Timor Timur dan yang lainnya bakal dibebaskan. Ini sekaligus juga berarti pengusiran terhadap militer asing agresor yang telah menumpahkan darah, menyebabkan kehancuran dan menyemai fitnah di negeri-negeri kita.

7. Kekayaan negeri-negeri Islam akan kembali ke pangkuan kaum Muslim. Dengan begitu, terputuslah cengkeraman negara-negara dan berbagai perusahaan Barat yang selama ini telah merampok kekayaan umat. Ini saja sebenarnya sudah cukup untuk memutus rantai kemiskinan sistemik yang sengaja dibuat di negeri-negeri kaum Muslim.

8. Kebaikan, keutamaan dan keadilan akan tersebar luas; penjagaan atas darah, kekayaan, kehormatan dan kemuliaan kaum Muslim akan senantiasa terwujud. Dengan itu, terputuslah siklus fitnah, kerusakan, dan ketidakstabilan yang disemai oleh kafir Barat dan antek-anteknya di negeri-negeri kaum Muslim.



Itulah sebagian arti berdirinya kembali Khilafah. Jika demikian, betapa besar kerugian yang diderita kaum Muslim akibat tiadanya Khilafah, dan betapa besar kebutuhan kita akan kembalinya Khilafah.

Sementara itu, kebutuhan kaum non-Muslim di dunia terhadap Khilafah adalah karena sesungguhnya umat manusia saat ini tengah berada di dalam penderitaan, kenestapaan serta sedang menghadapi ancaman yang membahayakan masa depan mereka akibat kekosongan spiritualitas dan hegemoni Kapitalisme yang terbukti telah banyak menimbulkan kehancuran di seluruh dunia.

Khilafah akan mampu membebaskan umat manusia dari keburukan Kapitalisme ini dan berbagai kejahatannya serta dari kepemimpinannya yang merusak. Khilafah akan meruntuhkan asas-asas sistem Kapitalisme yang bersifat manfaat belaka. Sebaliknya, Khilafah akan mengobarkan nilai-nilai spiritual, moral dan kemanusiaan di seluruh dunia. Khilafah akan berupaya menghancurkan negara-negara penjajah, utamanya Amerika.

Khilafah akan berupaya menempuh berbagai kebijakan yang mengokohkan nilai-nilai perlindungan atas umat manusia, darah, harta, kehormatan dan kemuliaannya. Khilafah akan mencegah terjadinya peperangan yang sia-sia. Khilafah akan menjaga hak generasi-generasi yang akan datang terhadap lingkungan yang bersih tanpa polusi.

Karena itulah, betapa umat manusia saat ini begitu membutuhkan Khilafah Islamiyah dan Khalifahnya sebagai Imam al-A’zham ([emimpin Agung). Betapa umat manusia saat ini begitu membutuhkan kepemimpinan Islam seperti ini, bukan kepemimpinan Kapitalisme yang dipimpin AS dengan Presiden Obama-nya atau siapapun.

Walhasil, saatnyalah kita bersatu menegakkan Daulah Khilafah Islam yang akan menerapkan dan menyebarluaskan Islam sebagai rahmatan lil ’alamin. Mahabenar Allah Yang berfirman:



]وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ[

Tiadalah kami mengutus engkau melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS al-Anbiya’ [21]: 107).